Darurat Lisan: Ketika Kata Umpatan Menjadi Tren Pergaulan
Di antara nikmat paling mahal yang Allah titipkan pada anatomi tubuh manusia adalah lisan. Dengan lisan ini, manusia bisa ditinggikan derajatnya masuk ke dalam surga melalui kalimat tauhid, zikir, dan dakwah. Namun, dengan lisan ini pula, manusia bisa dijerumuskan ke dalam neraka yang paling dalam. Hari ini, mari kita jujur melihat sekeliling kita, menatap sebuah fenomena pilu: darurat lisan dalam berkomunikasi.
POTRET FENOMENA: NORMALISASI KATA KOTOR
Jika kita amati interaksi sosial hari ini, baik di dunia nyata maupun di jagat media sosial, ada sebuah pergeseran nilai moral yang sangat mengkhawatirkan. Kata-kata umpatan, sebutan nama hewan, makian, dan kosakata kotor lainnya, kini tidak lagi diucapkan saat orang sedang mengamuk atau bermusuhan.
Kata-kata kotor tersebut telah mengalami “normalisasi”. Ia dijadikan bumbu candaan, dianggap keren, bahkan diadopsi sebagai gaya bahasa untuk menunjukkan keakraban antar teman. Jika tidak mengumpat, sebagian menganggap komunikasinya terasa hambar atau kurang “gaul”. Sungguh, ini adalah tipuan setan yang sangat halus dalam merusak benteng akhlak seorang Muslim.
TIMBANGAN SYARIAT: SEORANG MUKMIN TIDAK BERKATA KOTOR
Mari kita kembalikan fenomena ini pada timbangan syariat. Bagaimana Islam memandang lisan yang gemar mengumpat? Rasulullah SAW dengan tegas memberikan batasan yang jernih dalam sebuah hadis sahih riwayat Imam At-Tirmidzi:
“Laisal mu’minu bit-thah’aani wa lal-la’aani wa lal faahisyi wa lal badzii’.”
Artinya: “Seorang mukmin bukanlah orang yang suka mencela, bukan orang yang suka melaknat, bukan orang yang suka berkata-kata kotor (al-faahisy), dan bukan orang yang bersikap jorok/kasar (al-badzii’).”
Hadis ini menjadi tolok ukur keimanan kita. Iman itu bukan hanya ada di dalam dada atau dalam rupa sujud kita, melainkan memancar melalui untaian kata yang keluar dari lisan kita. Kalbu yang bersih tidak akan pernah mengalirkan air ucapan yang keruh dan kotor. Jika lisan kita begitu mudah melontarkan umpatan jahat, itu adalah alarm darurat bahwa ada yang salah dengan kualitas iman di dalam hati kita.
DAMPAK DAN BAHAYA DI AKHIRAT
Sering kali kita menganggap enteng satu kata umpatan yang keluar dari lisan kita, seraya berkata, “Ah, kan cuma bercanda, tidak ada niat serius.” Ingatlah peringatan keras Nabi SAW dalam hadis riwayat Imam Al-Bukhari, bahwa ada seorang hamba yang mengucapkan satu kalimat yang dianggapnya sepele, namun kalimat kotor itu justru melemparkannya ke dalam neraka jahanam sejauh jarak timur dan barat. Setiap huruf yang terucap dicatat oleh malaikat Raqib dan Atid, dan kelak lisan ini akan dikunci, sementara anggota tubuh lain yang akan menjadi saksi di hadapan Allah SWT.
lalu bagaimana cara kita menyembuhkan penyakit lisan yang sudah terlanjur marak ini?
- Pertama, Lakukan Refleks Hijrah Lisan: Putuskan rantai kata kotor dari mulut kita. Ganti umpatan refleks kita dengan kalimat tayyibah. Jika kaget atau kesal, latih lisan untuk mengucap Astagfirullah, Subhanallah, atau Innalillah, bukan nama binatang atau kata kotor.
- Kedua, Seleksi Lingkungan Pergaulan: Jika kita berada di lingkaran pertemanan yang setiap detiknya memproduksi umpatan, pelan-pelan warnai mereka dengan kesantunan kita, atau carilah lingkungan baru yang saling menjaga lisan.
- Ketiga, Hadirkan Rasa Diawasi (Ihsan): Ingatlah bahwa setiap tarikan napas dan ketikan jari kita di media sosial dipantau langsung oleh Allah SWT.
Mari kita jaga marwah diri dan keluarga kita dengan lisan yang bersih, santun, dan menyejukkan.
Penulis: Nuning Guruh Sri Wulandari, A.Md.



