Mengenal Hukum Nun dan Mim Bertasydid

Membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar merupakan bagian penting dalam menjaga kemuliaan kalam Allah. Salah satu ilmu yang membantu seorang Muslim membaca Al-Qur’an sesuai kaidah adalah ilmu tajwid. Di antara hukum tajwid dasar yang perlu dipahami adalah hukum nun bertasydid (نّ) dan mim bertasydid (مّ).

Nun bertasydid adalah huruf nun (ن) yang memiliki tanda tasydid ( ّ ), sehingga ditulis: نّ

Sedangkan mim bertasydid adalah huruf mim (م) yang memiliki tanda tasydid, yaitu: مّ

Dalam ilmu tajwid, apabila menemukan nun atau mim yang bertasydid, keduanya wajib dibaca dengan ghunnah (dengung) selama kurang lebih dua harakat.
Hukum bacaan ini disebut Ghunnah Musyaddadah.

Contoh Nun Bertasydid

Beberapa contoh nun bertasydid yang dapat ditemukan dalam Al-Qur’an antara lain:

إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ

Innā a‘ṭainākal-kauṡar.

Pada kata إِنَّا, terdapat huruf nun bertasydid. Nun tersebut dibaca dengan dengung sekitar dua harakat.

Contoh Mim Bertasydid

Contoh mim bertasydid dapat ditemukan pada bacaan:

ثُمَّ كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ

Ṡumma kallā saufa ta‘lamūn.

Pada kata ثُمَّ, terdapat mim bertasydid. Mim tersebut dibaca dengan dengung sekitar dua harakat.

Dengan memahami dan terus melatih hukum bacaan ini, kita dapat membaca Al-Qur’an dengan lebih tartil, tepat, dan sesuai dengan kaidah ilmu tajwid. Sebab, belajar tajwid bukan sekadar mempelajari aturan membaca, tetapi juga bagian dari ikhtiar untuk menjaga keindahan dan ketepatan dalam membaca firman Allah SWT.

Penulis: Rifki Baskara Kuncorojati S.Kom.