Waspada Jalan Tipuan: Ketika Sunnah Dikejar, Namun Yang Wajib Kehilangan Keagungan

Di antara anugerah terbesar yang Allah berikan kepada seorang hamba adalah kekuatan untuk melangkah ke masjid, menggerakkan lisan untuk berzikir, dan mengayunkan tangan untuk bersedekah. Namun, di balik indahnya amal shalih, ada pintu-pintu tipuan setan yang sangat halus, yang jika kita tidak waspada, akan membuat amal kita sirna tanpa makna. Hari ini, mari kita bedah salah satu golongan yang tertipu dalam beribadah.

SIAPAKAH GOLONGAN YANG TERTIPU INI?
Imam Al-Ghazali dalam kitabnya pernah mengingatkan adanya sekelompok orang yang merasa dirinya telah menjadi hamba yang taat, namun hakikatnya sedang tertipu (maghrur). Salah satu ciri utamanya adalah: Mereka begitu menggebu-gebu dan bersemangat mengejar amalan-amalan sunnah, tetapi hati mereka kehilangan rasa takzim, rasa agung, dan kekhusyukan terhadap ibadah-ibadah yang wajib.

Mari kita lihat potretnya dalam kehidupan sehari-hari:

  • Ada orang yang semalam suntuk menangis dalam shalat tahajud (sunnah), namun saat azan subuh berkumandang, ia tertidur lelap dan meninggalkan shalat subuh (wajib).
  • Ada orang yang begitu royal mengeluarkan jutaan rupiah untuk sedekah sosial atau umrah berkali-kali (sunnah), namun ia abai menghitung zakat mal miliknya, atau bahkan menunda-nunda membayar utang yang hukumnya wajib.
  • Ada orang yang bersemangat hadir di majelis-majelis zikir hingga larut malam, tetapi pulang ke rumah dengan membentak ibunya atau menelantarkan nafkah keluarganya.

MENELISIK TIMBANGAN SYARIAT (HAKIKAT HADIS QUDSI)
Mengapa fenomena ini disebut tertipu? Karena mereka telah merusak skala prioritas (Fiqhul Awwaliyat) yang telah ditetapkan oleh Allah SWT. Ingatlah sebuah hadis qudsi yang sangat agung, riwayat Imam Al-Bukhari, di mana Allah SWT menegaskan pilar utama untuk mendekatkan diri kepada-Nya:

“Wamaa taqarraba ilayya ‘abdi bisyai-in ahabba ilayya mimmaf-taradh-tuhu ‘alaihi…”
Artinya: “Dan tidaklah seorang hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada apa yang telah Aku wajibkan kepadanya.”

Hadis ini adalah barometer kita. Amal yang paling dicintai Allah, modal utama keselamatan kita, bukanlah letak banyaknya rakaat sunnah kita, melainkan seberapa agung dan sempurnanya kita menunaikan yang wajib! Ibadah wajib adalah fondasi bangunan, sedangkan ibadah sunnah adalah dinding dan hiasannya. Bagaimana mungkin seseorang sibuk mempercantik hiasan atap, sementara fondasi bangunannya keropos dan runtuh?

AKAR MASALAH: HILANGNYA KAGUM PADA YANG WAJIB
Setan membisikkan tipuan ini dengan sangat halus. Mereka membuat kita merasa “sudah shalih” hanya karena melakukan yang sunnah. Akibatnya, saat melakukan shalat wajib lima waktu, hati kita hambar. Kita shalat wajib hanya sekadar menggugurkan kewajiban, terburu-buru, tanpa ada rasa mengagungkan Allah SWT. Padahal, dosa mengentengkan dan merusak satu shalat wajib tidak akan pernah bisa ditutupi oleh seribu rakaat shalat sunnah jika fondasi wajibnya sengaja diruntuhkan.

Mari kita luruskan kembali kiblat amal kita.

  • Langkah pertama, kembalikan keagungan shalat lima waktu di dalam dada kita. Berusahalah shalat tepat waktu, berjamaah, dan hadirkan hati bahwa kita sedang menghadap Penguasa Semesta Alam.
  • Langkah kedua, pastikan urusan yang wajib (zakat, berbakti pada orang tua, hak suami/istri, kejujuran dalam mencari nafkah) sudah beres.
  • Langkah ketiga, setelah yang wajib tegak dengan agung, hiasi dan sempurnakanlah ia dengan amalan sunnah sebagai bentuk cinta tambahan kita kepada Allah.

Semoga Allah SWT menjauhkan kita dari penyakit ghurur (merasa tertipu) dan menjadikan kita hamba-hamba yang senantiasa mengagungkan setiap syariat-Nya.

Penulis: Nuning Guruh Sri Wulandari, A.Md.