Di Atas Langit Masih Ada Langit
Allah ﷻ berfirman:
“Kami angkat derajat siapa saja yang Kami kehendaki, dan di atas setiap orang yang berilmu masih ada yang lebih mengetahui.” (QS. Yusuf: 76)
Ayat ini memberi pelajaran besar bahwa ilmu, kedudukan, dan kekuasaan manusia sesungguhnya terbatas. Sehebat apapun seorang manusia, selalu ada yang lebih hebat darinya. Sepandai apapun seseorang, tetap ada yang lebih pandai. Bahkan, puncak pengetahuan manusia yang paling tinggi pun tidak akan pernah melampaui ilmu Allah ﷻ yang Maha Mengetahui. Maka ungkapan “di atas langit masih ada langit” bukanlah sekadar pepatah, melainkan cerminan dari kebenaran Al-Qur’an.
Manusia seringkali terjebak pada kesombongan saat diberi nikmat berupa harta, ilmu, jabatan, ataupun kedudukan. Maka, kesombongan adalah bentuk lupa diri, seakan-akan kita yang memiliki kuasa penuh, padahal semuanya hanyalah titipan. Kesadaran bahwa selalu ada yang lebih tinggi di atas kita menumbuhkan tawadhu’ (rendah hati). Orang yang berilmu tidak merendahkan yang belum tahu, orang kaya tidak menghina orang miskin, dan pemimpin tidak menindas rakyatnya. Justru dengan tawadhu’, Allah akan meninggikan derajat kita. Kesadaran ini seharusnya menumbuhkan kerendahan hati dan rasa syukur.
Pada akhirnya, “langit” tertinggi hanyalah Allah ﷻ. Dialah pemilik segala ilmu dan kekuasaan. Maka gantungkanlah harapan hanya kepada-Nya, jangan pada makhluk. Semoga kita menjadi hamba yang tawadhu’, selalu belajar, dan mendekatkan diri kepada Allah. Aamiin.
Penulis: Rifki Baskara Kuncorojati S.Kom.