Sudahkah kita berniat dengan benar?
ٍعَنْ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَلِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ
Dari Umar radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Amal itu tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia atau karena wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya itu sesuai ke mana ia hijrah.” (HR. Bukhari, Muslim, dan empat imam Ahli Hadits)
Hadits ini termasuk hadits yang merupakan landasan pertama Islam. Imam syafi’i mengatakan bahwa hadits ini merupakan sepertiga ilmu agama secara keseluruhan. Artinya siapa yang memahami hadits ini, seperti sudah mempelajari sepertiga dari agama islam karena besarnya kedudukannya dalam agama kita. Imam Ahmad mengatakan bahwa dasar-dasar agama islam tertumpu dalam 3 buah hadits, dan hadits di atas merupakan salah satunya.
Hadits yang terlihat sepele, lalu bagaimana mungkin hadits ini menjadi salah satu landasan agama? Bagaimana pengaruhnya dalam kehidupan sehari-hari?
Sesungguhnya semua tergantung niatnya. Ketahuilah teman-teman, bahwa niat ini bisa membawa kita ke dalam neraka, ataupun surga. Perkara niat tidak pernah menjadi suatu perkara yang remeh-temeh. Mari kita simak penggambaran Rasulillah berikut:
“Apabila ada dua orang muslim bertemu dengan dua pedangnya, sama-sama saling ingin membunuh dengan pedangnya. Maka Rasulullah mengatakan, bahwa yang dibunuh maupun yang membunuh, keduanya di neraka.”
Membunuh sesama muslim tanpa suatu alasan syar’i adalah salah satu dosa besar, maka sudah sepantasnya ia berada di neraka. Namun bagaimana dengan yang dibunuh?
Kata Rasulullah, karena orang yang terbunuh tadi itu, apabila dia tidak terbunuh, maka dia akan membunuh rivalnya. Hal ini menunjukkan bahwa dia dihisab sesuai dengan apa yang diniatkannya, walaupun perbuatannya bahkan tidak terjadi. Ia tetap mendapatkan ganjaran sesuai dengan apa yang diniatkannya.
Berdasarkan Zubaid Al-Yami, “sungguh aku benar-benar menyukai apabila aku dapat meniatkan kebaikan dalam setiap perbuatan, walaupun hanya dalam urusan makan dan minum.” Mari kita simak contoh berikut:
Makan dan minum itu hukum dasarnya mubah, boleh kita makan, boleh kita tidak makan. Bisa menjadi wajib apabila dalam kondisi kita lapar sekali, maka hukumnya menjadi wajib. Makan dan minum bisa berubah menjadi hukum sunnah, apabila diniatkan dalam hati misalnya untuk memberikan hak jasad karena perintah Allah, dan akan bernilai pahala. Makan dan minum bisa berubah menjadi hukum haram, apabila diniatkan untuk membangkang mengikuti hawa nafsu, seperti makan daging babi atau minum khamr.
Diriwayatkan oleh Sufyan Ats-Tsauri, “aku tidak pernah memperbaiki sesuatu yang lebih berat bagiku daripada niatku sendiri, karena niatku terus berubah-ubah.”
Hal ini menunjukkan bahwa niat itu bisa mengalami perubahan. Mungkin niat awal kita pada awalnya ikhlas karena Allah, namun dikemudian waktu niatnya tercampur dengan riya’. Sangat susah untuk mengontrol niat ini untuk terus ikhlas. Betapa banyak perbuatan sepele menjadi perbuatan besar karena niat. Dan betapa banyak perbuatan besar menjadi perbuatan sepele karena niat pula.
Sering kita dengarkan kalimat seperti, “yang penting niatnya baik.” Ketahuilah teman-temanku, Niat yang baik harus dibarengi dengan perbuatan yang baik pula. Karena bagaimana mungkin seseorang berniat baik namun tidak melakukan sesuatu yang baik?
Ingatlah bahwa Allah hanya menerima amal yang ikhlas lagi benar. Amal ibadah yang dikerjakan dengan ikhlas namun tidak benar, maka tidak diterima. Dan jika amal itu benar namun tidak ikhlas, amal itu juga tidak diterima. Sampai amal tersebut betul-betul dilakukan dengan ikhlas dan benar. Amal yang ikhlas adalah yang dikerjakan karena Allah SWT, dan amal yang benar adalah yang dikerjakan sesuai dengan tuntunan Nabi Muhammad saw.
Adapun jika ia meniatkan suatu amal ibadah dengan ikhlas dan benar, namun kemudian ia mendengar pujian orang lain dan ia merasa riya’ setelahnya, maka itu dapat merusak ibadahnya. Misalnya ia sedang sholat, kemudian mendapat pujian dari temannya maka ia perbagus dan percantik sholatnya karena riya’. Hal ini merusak ibadah sholat tersebut.
Maka apabila kita pada mulanya berniat dengan ikhlas kemudian kita temukan dikemudian waktu niat kita bergoyah, maka segera tepislah bibit-bibit riya’ itu dan segeralah beristighfar.
“Dan setiap orang hanya mendapat apa yang dia niatkan”.
Penulis: Ridha Sangpangesti Murti, S.T.P.