,

FGD Universitas Islam Indonesia dengan DINKES Sleman : Solusi Permasalahan Mahasiswa Masa Kini

Permasalahan mahasiswa di Indonesia khususnya di dalam lingkup Universitas Islam Indonesia, Sleman, Yogyakarta, masih menjadi perhatian besar bagi Direktorat Pembinaan Kemahasiswaan UII mengingat hal ini berkaitan langsung dengan tingkat kesejahteraan mahasiswa. Pada Jum’at, 1 Maret 2024, DPK telah mengadakan pertemuan kolaboratif dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman di Ruang Sidang Datar, Gedung Kuliah Umum Gedung Sardjito lantai 2, Universitas Islam Indonesia.

Pertemuan dihadiri oleh jajaran pimpinan Bidang Keagamaan, Kemahasiswaan, dan Alumni meliputi Wakil Rektor, Wakil Dekan, PIC Kesehatan Mental dari masing-masing Fakultas, serta Direktorat-Direktorat yang melakukan kontak langsung dengan mahasiswa. Acara dibuka oleh Bapak Arif Fajar Wibisono, S.E., M.Sc., selaku Direktur Direktorat Pembinaan Kemahasiswaan, kemudian dilanjutkan dengan sambutan oleh Bapak Dr. Drs. Rohidin, S.H., M.Ag., selaku Wakil Rektor.

Acara utama merupakan paparan dari pihak Dinkes Sleman, yang diwakili oleh Ibu dr. Khamidah Yuliati, MMR yang memaparkan data-data permasalahan mahasiswa yang pernah dialami oleh Dinkes Sleman. Beliau memaparkan bahwa permasalahan mahasiswa kian meningkat, misalnya pada kasus kesehatan mental, pergaulan bebas, hingga permasalahan orientasi seksual termasuk LGBT.

Ibu dr. Khamidah Yuliati, MMR menyatakan bahwa pada tiap-tiap puskesmas di seluruh wilayah Sleman kini telah tersedia Psikolog yang mampu memberikan layanan konseling dan penanganan lebih lanjut. Berkaitan dengan hal tersebut, UII sebelumnya telah bekerja sama dengan Dinkes Sleman dalam penanganan kesehatan mental mahasiswa ini. UII juga telah memiliki hotline pertolongan pertama terhadap mahasiswa yang berupaya untuk bunuh diri, serta layanan konseling dan pendampingan mahasiswa.

Ibu dr. Khamidah Yuliati, MMR menyampaikan bahwa demi untuk meningkatkan kesejahteraan mahasiswa dalam kaitannya dengan kesehatan mental, pergaulan bebas dan orientasi seksual, haruslah dimulai dari didikan keluarga, dukungan lingkungan, serta stigma masyarakat yang positif. Universitas harus mulai mengupayakan kegiatan-kegiatan yang menyenangkan, sehingga tidak melulu memberikan tekanan dan kegiatan monoton yang berupa hanya belajar-mengajar saja. “Jadikanlah lingkungan Universitas ini menjadi menyenangkan”, ujarnya.

Acara dilanjutkan dengan sesi diskusi dari kedua belah pihak. Banyaknya pertanyaan dan kebingungan-kebingungan yang telah terjawab oleh Dinkes Sleman, dan akan segera diterapkan di lingkungan Universitas Islam Indonesia. Permasalahan seputar kesejahteraan mahasiswa memang membutuhkan keterlibatan dari berbagai pihak .

Akhir acara ditutup oleh Ibu Nur Pratiwi Noviati, S.Psi., M.Psi., Psi, selaku Kepala Divisi Pembinaan Kepribadian dan Kesejahteraan Direktorat Pembinaan Kemahasiswaan. Diharapkan bahwa hasil dari pertemuan ini akan memberikan kontribusi positif dan realisasi dari jawaban-jawaban yang diterima dari Dinkes Sleman, dalam meningkatkan kesadaran akan pentingnya kesehatan mental, fisik, kepribadian, dan seksualitas di kalangan mahasiswa, serta memperkuat sinergi antara institusi pendidikan tinggi dan pemerintah daerah dalam mendukung kesejahteraan mahasiswa.

Penulis: Ridha Sangpangesti Murti S.T.P.