,

Menyebarkan Minat Baca Buku Lewat Daring dan Aplikasi

Rendahnya tingkat literasi Indonesia menjadi fakta yang memprihatinkan. Menurut statistik dari United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO), dari total 61 negara, Indonesia berada di peringkat 60 dengan tingkat literasi rendah. Salah satu penyebab rendahnya minat baca adalah kurangnya sarana dan akses untuk mendapatkan buku bacaan yang murah, mudah, dan lengkap. Walaupun sudah ada buku digital atau e-book melalui pemanfaatan teknologi internet, tetapi Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) meyakini bahwa masyarakat Indonesia masih lebih memilih buku fisik daripada e-book.

E-book masih dianggap kurang lengkap terutama untuk koleksi buku-buku lama. Riset yang dilakukan pada tahun 2016 juga menunjukkan bahwa rata-rata e-book yang diunduh masyarakat selama ini kebanyakan hanyalah e-book gratis. Jika harus membeli, masyarakat masih lebih memilih untuk membeli buku fisik.

Inilah yang diungkapkan sekelompok mahasiswa UII yang tergabung dalam sebuah tim beranggotakan Idznila Shabrina (Manajemen), Kunti Saptasari (Manajemen), dan Ery Dwi Pantari (Manajemen). Ketiganya pun terpantik menciptakan suatu ide bisnis bernama BuKuy! Untuk menyebarkan minat membaca buku.

Disampaikan oleh Idznila Shabrina bahwa BuKuy! merupakan platform pinjam-meminjam dan jual-beli buku bekas dengan sistem terintegrasi berbasis daring dan aplikasi mobile. “Terdapat 4 jenis user di platform BuKuy!, yaitu seller (user yang menjual buku baru atau bekas), buyer (user yang membeli buku dari seller), giver (user yang meminjamkan buku dan berkesempatan mendapatkan uang dari hasil sewa bukunya), dan reader (user yang meminjam buku dari giver dan bertanggung jawab merawat serta mengembalikan buku tepat waktu)”, terangnya. Ia pun menambahkan bahwa tujuan utama dari bisnis ini ialah untuk memberi kebermanfaatan bagi masyarakat dengan menyediakan kemudahan akses untuk mendapatkan buku.

Selain itu, ia juga mengaku prihatin dengan nasib buku-buku bekas yang kebanyakan berakhir menjadi rongsokan. “Berdasarkan mini-survey yang dilakukan oleh penulis di tempat pengumpulan rongsok di daerah Yogyakarta, tiap harinya para pengepul rongsok mengumpulkan banyak buku bekas yang dibeli dari masyarakat. Buku-buku tersebut hanya dibeli dengan sistem kiloan yang berarti harganya menjadi jauh lebih murah karena hanya dinilai dari berat kertasnya saja”, ujarnya.

Ide bisnis ini pun mendapat respon positif dari berbagai pihak. Di antaranya pada acara Young Scientist International Seminar & Expo 2019 (YSIS 2019) di Universitas Brawijaya pada 24-25 Juni 2019, mereka dihadiahi medali emas. Selain itu, mereka juga mendapat penghargaan sebagai juara pertama dalam perlombaan Business Model Canvas (BMC) yang diselenggarakan oleh Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi UII.

Para founders semakin yakin dan terpacu untuk mengembangkan bahkan merealisasikan BuKuy! dengan mengajak dua co-founders untuk bergabung, yaitu Hana Nafita Fella (Manajemen) dan Niky Ayu Lestari (Teknik Informatika). Saat ini BuKuy! dapat diakses melalui laman www.bukuy.id dan ke depan juga dapat diunduh pada Play Store.